Oleh: Jan Prince Permata
Kandidat Doktor Manajemen Berkelanjutan Perbanas Institute dan Pegiat Yayasan Kekal Berdikari
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I-2026. Pemerintah menyebut capaian ini sebagai sinyal positif bahwa konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja negara masih bergerak kuat. Secara statistik, ekonomi nasional memang terlihat cukup solid.
Namun di tengah angka pertumbuhan itu, banyak rakyat justru merasa hidup semakin berat. Harga kebutuhan pokok belum benar-benar terasa murah. Biaya hidup di kota terus naik. Dunia usaha mulai mengeluhkan lemahnya permintaan pasar. Di sisi lain, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) dan perlambatan sektor industri masih menghantui.
Inilah paradoks ekonomi Indonesia hari ini: angka makro tumbuh, tetapi rasa aman ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih. Bagi sebagian besar rakyat, ukuran ekonomi sebenarnya sangat sederhana. Bukan soal grafik pertumbuhan atau pidato optimistis pejabat. Yang dirasakan sehari-hari adalah harga beras, biaya sekolah anak, ongkos transportasi, cicilan rumah, dan apakah penghasilan masih cukup sampai akhir bulan.
Masalahnya, tekanan terhadap kelompok menengah bawah semakin nyata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan Indonesia pada April 2026 berada di kisaran 3 persen. Angka ini memang masih dalam target pemerintah. Namun di lapangan, masyarakat merasakan kenaikan harga kebutuhan dasar jauh lebih besar dibanding kenaikan pendapatan mereka.
Karena itu, banyak keluarga akhirnya hidup lebih hati-hati. Belanja ditahan, tabungan tergerus, dan daya beli melemah.
Situasi ini semakin berat karena pasar tenaga kerja belum sepenuhnya pulih. BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Februari 2026 masih berada di kisaran 4,76 persen atau sekitar 7,3 juta orang. Jumlah ini memang turun dibanding masa pandemi, tetapi tetap menunjukkan bahwa jutaan masyarakat masih menghadapi ketidakpastian pekerjaan.
Bahkan bagi mereka yang bekerja, tidak semuanya berada dalam kondisi aman. Banyak pekerja menghadapi tekanan pendapatan akibat melambatnya sektor riil dan efisiensi perusahaan.
Sinyal perlambatan itu mulai terlihat dari sektor manufaktur. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun ke level 49,1 pada April 2026. Angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas industri sedang mengalami kontraksi. Artinya, produksi melambat, permintaan pasar menurun, dan dunia usaha mulai menahan ekspansi.
Jika kondisi ini berlangsung terlalu lama, dampaknya bisa meluas ke sektor tenaga kerja dan konsumsi rumah tangga. Ketika industri menahan produksi, maka penyerapan tenaga kerja ikut melemah. Ketika lapangan kerja melambat, daya beli masyarakat ikut tertekan.
Tekanan serupa juga dirasakan pelaku usaha mikro dan ultramikro. Mereka memang menjadi bantalan ekonomi nasional ketika sektor formal melemah. Namun di lapangan, banyak usaha kecil justru bekerja lebih keras dengan keuntungan yang semakin tipis.
Harga bahan baku naik, biaya distribusi meningkat, sementara konsumen mulai mengurangi belanja. Tambahan modal usaha tanpa penguatan kapasitas dan akses pasar sering kali hanya membuat usaha bertahan hidup, bukan berkembang.
Padahal sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional dan berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ketika sektor ini melemah, dampaknya langsung terasa terhadap konsumsi domestik dan stabilitas sosial ekonomi masyarakat.
Karena itu, tantangan terbesar Indonesia saat ini sebenarnya bukan hanya mengejar pertumbuhan tinggi, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar berkualitas dan terasa merata.
Pertumbuhan ekonomi yang sehat seharusnya mampu memperkuat daya beli rakyat, memperluas lapangan kerja, dan memberi rasa aman bagi kelas menengah maupun kelompok rentan.
Dalam kondisi seperti sekarang, pemerintah perlu lebih fokus menjaga sektor riil dan konsumsi masyarakat. Stabilitas harga pangan harus menjadi prioritas karena tekanan terbesar rumah tangga selalu berasal dari kebutuhan dasar. Penciptaan lapangan kerja produktif juga harus diperluas agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat dalam statistik.
Selain itu, penguatan UMKM dan usaha ultramikro harus dilakukan lebih serius melalui pendampingan usaha, akses pasar, dan transformasi digital, bukan sekadar penyaluran kredit.
Indonesia memang sedang bertumbuh. Namun pertumbuhan ekonomi sejati bukan hanya yang terlihat di laporan makro atau angka statistik. Pertumbuhan yang sehat adalah pertumbuhan yang terasa di dapur rakyat, di pasar tradisional, di pelaku usaha kecil, dan di keluarga kelas menengah yang setiap hari berjuang menghadapi tekanan biaya hidup. Sebab pada akhirnya, rakyat tidak hidup dari angka pertumbuhan ekonomi. Rakyat hidup dari rasa aman bahwa penghasilan mereka masih cukup untuk menjalani hidup dengan layak.







