Dari Soemitro hingga Bung Karno : Hilirisasi Nasional dan Pertaruhan Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Oleh: Prima Dwi Dzaldi 

Ketua DPP GMNI Bidang Industri dan Hilirisasi

Read More

 

Dinamika ekonomi global dan tantangan domestik yang dihadapi Indonesia saat ini memerlukan ruang refleksi yang mendalam, terutama dalam menentukan arah kebijakan ekonomi jangka panjang. Ketua Bidang Industri dan Hilirisasi DPP GMNI, Prima Dwi Dzaldi, mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menengok kembali fondasi pemikiran ekonomi yang digagas oleh begawan ekonomi Indonesia, Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo. Menurutnya, pemikiran Soemitro dalam buku monumental “Industri dalam Pembangunan” masih sangat kontekstual dan relevan sebagai peta jalan pemulihan ekonomi hari ini.

Prima menyampaikan bahwa tantangan struktural yang dihadapi Indonesia saat ini—seperti pentingnya memperkuat rantai pasok domestik dan mengoptimalkan nilai tambah komoditas—telah diantisipasi secara jernih oleh Soemitro puluhan tahun silam.

“Gagasan Prof. Soemitro dalam ‘Industri dalam Pembangunan’ bukan sekadar untaian teori masa lalu, melainkan sebuah cetak biru yang visioner. Beliau mengingatkan kita bahwa struktur ekonomi yang kuat hanya bisa tegak jika industrialisasi diletakkan sebagai pilar utama pembentukan nilai tambah, bukan sekadar pelengkap sektor ekstraktif,” ujar Prima Dwi Dzaldi dalam catatan refleksinya hari ini.

Sinergi Perdagangan dan Industri: Menjaga Keseimbangan Ekonomi

Prima menggarisbawahi salah satu pandangan Soemitro yang menekankan pentingnya harmoni antara sektor produksi dan pasar:

“Pembangunan industri tidak dapat dipisahkan dari perluasan perdagangan. Keduanya adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama. Industri menciptakan nilai tambah, sedangkan perdagangan membuka jalan bagi produk domestik untuk menguasai pasar dalam dan luar negeri.”

Dalam konteks hari ini, Prima memandang bahwa agenda hilirisasi yang tengah berjalan perlu terus disempurnakan agar selaras dengan esensi pemikiran tersebut. Hilirisasi selayaknya tidak berhenti pada tahap pengolahan awal demi mengejar angka ekspor, melainkan harus melahirkan kedalaman struktur industri yang mampu menyerap tenaga kerja lokal secara optimal dan memperkuat pasar domestik.

Merajut Kemandirian Melalui Trisakti Bung Karno

Lebih lanjut, Prima mengutip pemikiran Soemitro mengenai bagaimana sebuah bangsa dapat berdiri di atas kaki sendiri melalui keterkaitan antar-sektor yang kokoh:

“Upaya Indonesia untuk berdikari secara ekonomi hanya bisa dicapai apabila industri dalam negeri mampu mengolah kekayaan alam sendiri, didukung oleh tenaga kerja lokal yang terampil, serta sistem perdagangan yang melindungi kepentingan nasional tanpa menutup diri dari interaksi global.”

“Bagi kami di GMNI, konsepsi luhur Trisakti Bung Karno—yang menegaskan bahwa Indonesia harus Berdikari di Bidang Ekonomi—menemukan artikulasi teknis dan operasionalnya yang sangat apik dalam pemikiran Prof. Soemitro. Berdikari bukanlah sebuah bentuk isolasi diri dari dunia luar, melainkan kemampuan kedaulatan kita untuk menentukan arah dan memegang kendali atas ekosistem ekonomi kita sendiri. Kita ingin industri nasional tumbuh matang dan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, bukan sekadar menjadi penonton di tengah melimpahnya kekayaan alam kita,” tutur Prima dengan pembawaan yang tenang namun tegas.

Rekomendasi Strategis DPP GMNI

Sebagai kontribusi pemikiran bagi percepatan pemulihan ekonomi, Prima Dwi Dzaldi menawarkan tiga pendekatan strategis yang menyelaraskan semangat Trisakti dengan ajaran Soemitro:

1. Penguatan Ekosistem Hilirisasi Nasional: Mendorong integrasi pasca-pengolahan agar produk-produk hilirisasi dapat menjadi bahan baku berkualitas bagi industri manufaktur lanjutan di dalam negeri, sebagai wujud nyata kemandirian ekonomi.

2. Akselerasi Substitusi Impor: Memberikan ruang tumbuh dan insentif yang memadai bagi industri hulu dan antara lokal guna mengurangi ketergantungan pada komponen asing, sejalan dengan prinsip beridkari.

3. Investasi Jangka Panjang pada Human Capital: Menempatkan peningkatan kapasitas, keahlian, dan transfer teknologi kepada tenaga kerja lokal sebagai prioritas utama di setiap pusat pertumbuhan industri baru demi kedaulatan sumber daya manusia kita.

“Pemulihan ekonomi yang sejati membutuhkan kompas yang jelas. Buku ‘Industri dalam Pembangunan’ karya Prof. Soemitro memberikan kita arah untuk melangkah, sementara Trisakti Bung Karno memberikan kita ruh dan semangat perjuangannya. Dengan memadukan kebijakan perdagangan yang adil dan agenda industrialisasi yang mandiri, kita tidak hanya akan melewati masa-masa sulit ini, tetapi juga meletakkan batu pertama bagi Indonesia yang maju, berdaulat, dan benar-benar berdikari secara ekonomi,” pungkas Prima.

Related posts

Leave a Reply