Nasionalisme Mazhab Soekarno

Oleh: Dadang RHS

Mempertemukan nasionalisme, Islam dan Marxisme seperti musykil rasanya. Tapi, tidak bagi Soekarno, sebab ketiganya memang harus dipersatukan untuk melawan kekuasaan kolonialisme, imprealisme dan kapitalisme.

Read More

Adalah Ir Soekarno, Bung Karno, orang yang begitu berketetapan hati menjadikan nasionalisme sebagai dasar kebersamaan Indonesia. Menurut Soekarno,”Nasionalis yang sejati, yang cintanya pada tanah air itu bersendi pada pengetahuan atas susunan ekonomi dunia dan riwayat, dan bukan semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka, -Nasionalis yang bukan chauvinis, tak boleh tidak haruslah menolak segala faham pengecualian yang sempit budi itu. Nasionalis yang sejati, yang nasionalismenya itu bukan semata-mata suatu copy atau tiruan dari nasionalisme barat akan tetapi timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan.” Rumusan paham kebangsaan Soekarno ini merupakan ‘adonan’ dari pikiran Ernest Renan, Otto Bauer, dan Mahatma Gandhi (seperti yang diakuinya dalam pidatonya 1 Juni 1945).

Dalam gagasannya ini tampak sekali betapa kuat keinginannya untuk menyatukan Indonesia. Hasrat inilah yang terus merasuki pikiran dan hatinya. Namun, tentu saja hasrat ini tak lahir sekonyong-konyong. Perjalanan hidup Soekarno telah mengantarnya pada kesimpulan ini. Pergaulannya dengan para aktivis politik di Surabaya, di mana ia bergaul dan tinggal di rumah tokoh Sarekat Islam kharismatis Tjokroaminoto, tempat ia memulai karir politiknya sangatlah memberi andil pada nasionalismenya.

Soekarno memang banyak belajar dan bergaul dengan para tokoh pergerakan di zamannya. Dalam ‘Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan’, Bernhard Dahm (1987), menulis bahwa Tjokroaminoto merupakan salah seorang tempat Soekarno berguru. Sebagaimana pengakuan Bung Karno, nama populer yang digunakan Soekarno sebagai simbol kesetaraan, bahwa ia belajar politik dari ayah mertuanya ini. “Saya telah belajar politik dari Tjokroaminoto,” kata Soekarno.

Pengaruh Tjokro ini tampak dalam banyak hal. (Soekarno kerap menemani Tjokro dalam banyak rapat umum di mana Tjokro menjadi bintangnya. Dan, Soekarno belakangan hari menjadi seorang orator yang ulung.) Kegigihan Soekarno untuk menjaga persatuan agaknya sedikit banyak merupakan pengaruh pergaulannya dengan Tjokro.

Dan, tentu saja, sedikit banyak Soekarno juga ngaji tentang Islam dari tokoh SI ini. Pelajaran tentang Islam ini kelak berlanjut ketika ia masuk penjara Sukamiskin. Di penjara ini, ia banyak membaca Al Qur’an dan tafsir. Pengajian ini berlanjut, ketika ia menghabiskan harinya dalam pembuangan di Ende, Flores, lewat surat menyuratnya dengan Hasan Bandung, seorang tokoh Persis. Soekarno banyak berdiskusi mengenai Islam. (Agaknya hal ini pula yang membuat ia meyakini bahwa Islam merupakan kekuatan yang tak bisa dipisahkan dari Indonesia)

Di lain pihak, Soekarno juga bersahabat dengan Hatta, tokoh pergerakan Indonesia dan pendiri Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda, orang yang kelak menjadi kawan sekaligus lawannya. Ia juga bergaul baik dengan tokoh nasionalis seperti Tjipto Mangunkusumo, teman Soekarno di Algemeene Studieclub – Bandung, juga dengan Sjahrir, tokoh politik muda aktivis Perhimpunan Indonesia (PI), yang kelak akan memimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Ia juga dikabarkan, kerap saling berkirim surat dengan salah seorang tokoh pergerakan radikal di perantauan, Tan Malaka. Menurut Harry A Poeze (1999), salah satu surat Tan Malaka kepada Soekarno ditemukan dalam sebuah penggrebekan yang dilakukan polisi kolonial. Bahkan dalam pengadilannya, di mana Soekarno menyampaikan pembelaannya yang terkenal ‘Indonesia Menggugat’, jaksa penuntut menunjukkan brosur Massa Actie, karya Tan Malaka, sebagai salah satu bukti penting.

Pergaulan inilah yang secara jelas memantapkan keyakinan Soekarno pada persatuan nasional. Di mana para tokoh yang menjadi kawannya adalah orang-orang –yang dalam istilah Poeze adalah kaum nasionalis radikal– yang juga meyakini bahwa hal ini merupakan syarat menuju Indonesia merdeka, tentu dengan sudut pandang yang beragam. Hasrat akan persatuan ini agaknya merupakan semangat zaman itu.

Soekarno dan Persatuan Nasional
Ketetapan hati Soekarno akan persatuan nasional ini tampak jelas pada tulisannya ‘Nasionalisme, Islam dan Marxisme’. Ikhtiarnya untuk mempertemukan unsur-unsur yang hidup di Indonesia sangatlah menggebu-gebu. Bahkan, pada batasnya, terasa seperti ingin ‘menegakkan benang basah’. Seperti musykil rasanya mempertemukan Islam dan Marxisme. Bak mimpi di siang bolong.

Namun, tidak untuk ayah Megawati Soekarnoputri ini. Baginya, Islam dan Marxisme memiliki kesamaan. Keduanya menentang penghisapan terhadap sesama manusia. Interseksi ini pun berlaku pada nasionalisme dan Marxisme, bahwa keduanya menentang penindasan manusia terhadap sesamanya. Alhasil, ketiganya memiliki persamaan yakni menentang penindasan dan penghisapan. Dan karena itulah, ketiga-tiganya (nasionalisme, Islam dan Marxisme) harus bersatu melawan kekuasaan kolonialisme, imprealisme dan kapitalisme.

Seruan persatuan ini, menurut Takashi Shiraishi (1997), menunjukan zaman baru dalam era pergerakan nasional. Dan, bagi Shiraishi, klasifikasi Soekarno terhadap nasionalis, Islam dan Marxis, dalam masyarakat Indonesia merupakan bukti bahwa gagasan itu memang ada dan dikenal luas dalam pergerakan Indonesia waktu itu.

Dalam buku ‘Soekarno, Biografi 1901-1950’, Lambert Giebels (2001), selain Surabaya, kota kembang Bandung merupakan tonggak yang cukup penting bagi perkembangan keyakinan nasionalisme Soekarno. Kota kembang tempat ia kuliah dan mematangkan gagasan-gagasan politiknya. Di kota ini pulalah, kelak ia tampil menjadi tokoh nasionalis terkemuka.

Putra Sang Fajar ini, menurut Giebels, di kota kembang berkenalan dengan DMG Koch Marcel Koch, seorang Marxian Belanda yang kelak beralih menjadi sosialis demokrat. Dari perpustakan Koch, Soekarno sering meminjam buku. Menurut Koch, Soekarno cukup tertarik dengan pemikiran Karl Kautsky, seorang Marxis yang bersepaham dengan jalan parlemetariat serta belajar langsung dari Karl Marx dan Friedrich Engels, tentang sosialisme.

Seiring dengan ini, menurut Giebels, kuat kemungkinannya Soekarno juga membaca karya Bakoenin, seorang marxis dan putra tuan tanah di Rusia, yang menolak bahwa hanya kaum ploletar industri saja yang dianggap sebagai pejuang revolusioner. Bakoenin meyakini bahwa kaum petani adalah bagian dari perjuangan ini. Agaknya, menurut Giebels, Marhaenisme Soekarno sedikit banyak terpengaruh dari pikiran kedua orang ini.

Marhaenisme, yang menurut Soekarno diambil dari nama seorang petani yang pernah ia jumpai di tanah Priangan, kelak akan menjadi ideologi yang diusung Soekarno untuk mempersatukan Indonesia. Marhaenisme –seperti yang dikatakan Bung Karno pada Cindy Adams– adalah sosialisme Indonesia dalam praktek. Sebuah paham kebangsaan yang tak sempit budi. Nasionalisme yang mau berbagi pada sesama, tapi tidak pada para penghisap dan penindas.

Tentu saja ‘singa podium’ ini tak luput dari kesalahan. Sebagaimana ia pernah berkata dalam salah satu pidatonya,“Siapa berani berkata, Soekarno tak pernah bersalah!” Adalah suatu kenyataan, terlebih hari ini, bahwa semangat persatuan yang didasari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan bukanlah sekedar mimpi. (dadang rhs)

Related posts

Leave a Reply