Buruh Soroti Dampak Pelemahan Rupiah, Nilai Pernyataan Prabowo Tak Sensitif

Ilustrasi - Buruh dan karyawan mendengarkan pidato dari direksi perusahaan di Pabrik Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (28/2/2025). ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/foc.

JAKARTA, Kritik terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto terkait pelemahan nilai tukar rupiah terus bermunculan. Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), Timboel Siregar, menilai pernyataan Presiden terkesan meremehkan dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat, khususnya kalangan buruh.

Menurut Timboel, pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat hingga ke pedesaan. Ia menilai kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele karena banyak industri nasional masih bergantung pada bahan baku impor yang dibeli menggunakan dolar AS.

Read More

“Seluruh rakyat termasuk masyarakat di desa akan terdampak dengan pelemahan rupiah karena harga barang naik,” kata Timboel dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan biaya impor akan mendorong biaya produksi industri meningkat. Dampaknya, harga barang di pasar ikut terkerek naik dan pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.

Timboel menilai kondisi itu turut memengaruhi kesejahteraan pekerja. Menurut dia, kenaikan harga kebutuhan pokok membuat upah riil buruh semakin tergerus.

Selain itu, ia mengingatkan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) dapat meningkat apabila perusahaan tidak mampu menjaga arus kas di tengah tekanan nilai tukar. Perusahaan yang mengalami kesulitan akibat lonjakan biaya impor disebut berpotensi melakukan pengurangan tenaga kerja.

“Perusahaan yang tidak mampu mengatasi masalah cash flow karena pelemahan rupiah akan mengurangi pekerja, terjadi PHK yang lebih besar,” ujarnya.

Timboel juga menyoroti sikap sejumlah aktivis serikat pekerja dan serikat buruh yang dinilai kurang kritis terhadap kondisi ekonomi saat ini. Ia menyebut sebagian aktivis lebih banyak hadir dalam kegiatan seremonial dibanding menyuarakan persoalan pekerja.

Menurut dia, pemberian jabatan kepada aktivis buruh, undangan menghadiri acara resmi, hingga pengiriman delegasi ke Jenewa untuk mengikuti International Labour Conference (ILC) dapat menjadi cara untuk meredam kritik dari kalangan buruh.

Ia menegaskan, kondisi pekerja saat ini tengah menghadapi tekanan serius, mulai dari penurunan daya beli, menurunnya upah riil, hingga ancaman PHK yang berpotensi meningkatkan kemiskinan di kalangan buruh.

Related posts

Leave a Reply