Oleh: N.D. Santoso (Mantan Jurnalis)
Udara ibu kota semakin pengap. Bukan hanya karena polusi dan kemacetan yang tak pernah selesai. Ada sesak lain yang belakangan terasa semakin akrab, yaitu hidup yang bergerak lebih mahal daripada kemampuan sebagian orang untuk mengejarnya.
Kesesakan itu lantaran Harga BBM naik lagi. Dalam penjelasan resmi, selalu ada alasan yang masuk akal. Harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, tekanan fiskal, dan berbagai pertimbangan ekonomi lainnya.
Masalahnya, kehidupan sehari-hari tidak sekedar terjadi di ruang rapat. Melainkan berlangsung di pasar, di warung makan, di halte, di dapur rumah, dan di dompet orang-orang yang setiap bulan harus menghitung ulang pengeluarannya.
Beberapa waktu lalu saya mendengar seorang pedagang kecil berkata, “Yang bikin capek itu bukan harga yang naik. Yang bikin capek, setiap bulan ada saja yang harus disesuaikan.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi mungkin itulah ringkasan paling jujur tentang keadaan yang sedang dihadapi banyak orang.
Karena sesungguhnya kehidupan sebagian besar rakyat adalah rangkaian penyesuaian yang tidak pernah selesai.
Harga naik, menyesuaikan. Ongkos naik, menyesuaikan. Biaya sekolah naik, menyesuaikan. Penghasilan tetap, tetap menyesuaikan. Begitu terus.
Sampai kita lupa bertanya mengapa yang hampir selalu dituntut menyesuaikan adalah rakyat. Kemampuan beradaptasi kemudian dipuji sebagai ketangguhan. Kesabaran dipuji sebagai kebajikan. Daya tahan dipuji sebagai karakter bangsa.
Padahal tidak semua ketangguhan lahir dari pilihan. Ada ketangguhan yang lahir karena tidak ada jalan lain.
Dulu orang bekerja untuk memperbaiki hidup. Sekarang semakin banyak orang bekerja agar hidupnya tidak memburuk.
Dulu kerja keras dianggap jalan untuk naik kelas. Sekarang bagi banyak orang, kerja keras hanyalah cara agar tidak turun kelas.
Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya besar. Masyarakat tidak lagi sibuk mengejar masa depan. Mereka sibuk mempertahankan masa kini.
Di situlah biaya terbesar dari kenaikan harga sering kali tersembunyi. Bukan pada angka yang tertera di SPBU.
Melainkan pada hal-hal yang perlahan hilang setelahnya. Rencana yang ditunda. Tabungan yang tak jadi terkumpul. Keinginan memiliki rumah yang berubah menjadi usaha mempertahankan kontrakan.
Harapan yang sedikit demi sedikit diturunkan agar sesuai dengan keadaan. Mungkin masalah terbesar bangsa ini bukan kenaikan harga.
Harga selalu naik sejak dulu. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika turunnya standar mimpi mulai dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Ketika orang terbiasa menunda harapan. Ketika bertahan hidup dianggap sebagai pencapaian. Ketika hidup yang sedikit kurang buruk diterima sebagai kemajuan.
Selama ini kita terlalu sering membanggakan ketahanan rakyat. Padahal ada paradoks yang jarang dibicarakan di ruang-ruang publik.
Semakin kuat rakyat menanggung beban, semakin tidak terlihat beratnya beban tersebut. Dan ketika beban tidak lagi terlihat, semakin kecil dorongan untuk benar-benar menyelesaikannya.
Rabu 10 Juni 2026, untuk kesekian kalinya harga BBM naik lagi. Besok masyarakat akan kembali menyesuaikan diri. Seperti yang sudah berkali-kali terjadi.
Yang perlu dicemaskan bukan hanya kenaikan harganya. Yang lebih perlu dicemaskan adalah jika suatu hari nanti kita tidak lagi merasa ada yang salah.
Sebab sebuah bangsa tidak kehilangan masa depannya ketika harga-harga naik. Sebuah bangsa mulai kehilangan masa depannya ketika harapan diturunkan agar sesuai dengan keadaan.
Ketika generasi mudanya lebih sering belajar bertahan hidup daripada membangun masa depan. Dan ketika keberanian untuk bermimpi perlahan dianggap sebagai kemewahan.
Bangsa yang sehat tidak diukur dari seberapa lama rakyatnya mampu bertahan. Bangsa yang sehat diukur dari seberapa banyak rakyatnya masih berani bermimpi.







