JAKARTA, Kapten Prancis Kylian Mbappe mengakui timnya kalah secara teknis maupun taktis saat menyerah 0-2 dari Spanyol pada semifinal Piala Dunia 2026, Rabu (15/7/2026) dini hari WIB. Penyerang berusia 27 tahun itu menilai Les Bleus tidak memainkan sepak bola terbaiknya sehingga gagal melangkah ke final untuk ketiga kalinya secara beruntun.
“Saya pikir kami tidak memainkan permainan kami, baik secara teknis maupun taktis. Ketika Anda tidak melakukan apa yang seharusnya Anda lakukan di semifinal Piala Dunia, Anda tidak akan menang. Spanyol tetap setia pada rencana permainan mereka,” kata Mbappe seusai pertandingan, dikutip dari Athlonsports
Laga yang digelar di Stadion Dallas, Selasa (14/7/2026) waktu setempat, semula diprediksi menjadi pertandingan terbesar sepanjang Piala Dunia 2026. Prancis bahkan lebih banyak dijagokan karena tampil konsisten sepanjang turnamen. Namun, Spanyol justru menunjukkan permainan yang lebih matang dan mendominasi jalannya laga.
La Roja membuka keunggulan melalui Mikel Oyarzabal dari titik penalti setelah Lamine Yamal dilanggar tanpa sengaja di kotak terlarang. Pada babak kedua, Pedro Porro menggandakan keunggulan melalui penyelesaian akhir yang memanfaatkan sebuah rangkaian serangan apik. Skor 2-0 bertahan hingga laga usai dan memastikan Spanyol melaju ke final.
Sepanjang pertandingan, Spanyol sukses meredam lini serang Prancis yang sebelumnya tampil sangat produktif. Mbappe, yang datang ke semifinal dengan koleksi delapan gol dan menjadi pencetak gol terbanyak turnamen, gagal memberikan pengaruh besar bagi timnya.
Menurut Mbappe, kesalahan terbesar Prancis terletak pada pendekatan taktis sejak awal pertandingan. Ia menilai strategi tekanan yang diterapkan timnya justru menguntungkan Spanyol.
“Sejak awal kami melakukan pressing tiga lawan dua. Kami melakukan kesalahan di sana. Melawan Spanyol, kami seharusnya melakukan pressing satu lawan satu. Bahkan ketika berhasil merebut bola, sentuhan dan pergerakan kami tidak layak untuk semifinal Piala Dunia. Sejujurnya, kami tidak memiliki apa yang dibutuhkan untuk mencapai final Piala Dunia,” ujar Mbappe.
Pernyataan tersebut dinilai sebagai isyarat ketidakpuasan terhadap pendekatan taktik yang diterapkan pelatih Didier Deschamps. Sepanjang laga, Mbappe memang kesulitan mendapatkan ruang untuk mengembangkan permainan.
Statistik pertandingan menunjukkan minimnya kontribusi sang kapten. Ia menutup laga tanpa satu pun tembakan tepat sasaran maupun peluang yang diciptakannya. Mbappe hanya mencatat satu dribel sukses, memperoleh satu pelanggaran, serta menyelesaikan 12 operan dari total 34 sentuhan bola.
Kekalahan dari Spanyol juga menjadi kekalahan kedua Mbappe dalam tiga edisi Piala Dunia. Sebelumnya, ia hanya pernah merasakan kekalahan saat final Piala Dunia 2022 melawan Argentina, meski ketika itu berhasil mencetak hattrick sebelum Prancis kalah melalui adu penalti.
Pelatih Didier Deschamps juga mengakui timnya tampil di bawah standar. Namun, menurut dia, penyebab utama kegagalan bukan semata-mata persoalan taktik. Di mata Deschamps, banyaknya kesalahan teknis dan buruknya penguasaan bola yang membuat Prancis gagal menciptakan ancaman berarti.
“Kami sedikit di bawah standar dan kurang berbahaya secara ofensif daripada yang seharusnya. Kami melakukan beberapa kesalahan teknis dan melewatkan operan yang bisa menghasilkan situasi dan peluang. Kami harus menerimanya. Ini level tertinggi, meskipun menyakitkan. Spanyol menunjukkan sesuatu yang lebih dalam pertandingan ini,” kata Deschamps.
Kekalahan tersebut memastikan Prancis harus puas memainkan laga perebutan peringkat ketiga. Sementara bagi Deschamps, pertandingan itu akan menjadi penampilan terakhirnya sebagai pelatih tim nasional Prancis setelah sebelumnya memastikan akan mengakhiri masa baktinya usai Piala Dunia 2026.







