BANDAR LAMPUNG, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia melontarkan sindiran kepada Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait terkait realisasi Program 3 Juta Rumah.
Sindiran itu disampaikan Bahlil saat berpidato dalam Musyawarah Nasional XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia atau HIPMI di Bandar Lampung, Rabu (10/6/2026).
Awalnya, Bahlil menyapa sejumlah anggota kabinet yang hadir dalam forum tersebut. Ia kemudian menyinggung Maruarar yang disebutnya banyak memberikan pesan mengenai pentingnya pembangunan rumah.
“Yang saya hormati anggota kabinet yang sempat hadir. Nanti Bapak Presiden yang akan mengabsen. Tapi Pak, tadi di pesawat saya didoktrin oleh menteri yang bukan HIPMI tapi merasa HIPMI, yaitu Menteri Perumahan Rakyat,” ujar Bahlil, disambut tawa peserta.
Bahlil mengatakan, Maruarar menyampaikan kepadanya bahwa urusan pembangunan rumah juga berkaitan dengan penguatan UMKM. Sebab, pembangunan rumah dinilai dapat menggerakkan banyak sektor ekonomi rakyat, mulai dari tenaga kerja, material bangunan, kontraktor kecil, hingga pelaku usaha di daerah.
Namun, Bahlil kemudian menyelipkan sindiran. Ia menilai, gagasan besar tersebut belum terlihat sejalan dengan realisasi di lapangan.
“Menyampaikan kepada saya, dinda, sekalipun dinda Menteri ESDM, tapi yang mengurus UMKM itu adalah bangun-bangun rumah katanya. Cuman realisasinya kok belum-belum ada juga,” kata Bahlil.
Pernyataan itu menjadi sentilan terbuka terhadap pelaksanaan Program 3 Juta Rumah, salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Program tersebut ditujukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap hunian layak, sekaligus menekan backlog perumahan nasional yang masih mencapai jutaan keluarga.
Bahlil melanjutkan kelakarnya dengan mengatakan bahwa dirinya bisa saja membantu Maruarar. Namun, ia mengaitkannya dengan dinamika pemilihan Ketua Umum HIPMI.
“Lama-lama Pak Ara, Pak, akan saya kasih, tapi tergantung memilih calon Ketua Umum yang mana dulu,” ujar Bahlil.
Kelakar itu memperkuat suasana politik dalam Munas HIPMI. Di satu sisi, Bahlil menampilkan kedekatan personal dengan Maruarar. Namun di sisi lain, ia memberi tekanan agar target besar perumahan rakyat tidak berhenti sebagai slogan.
Hingga 2026, pekerjaan rumah Program 3 Juta Rumah masih besar. Pemerintah memang telah menyiapkan sejumlah instrumen, mulai dari Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya atau BSPS, rumah subsidi melalui FLPP, hingga pembiayaan perumahan untuk memperkuat rantai pasok sektor konstruksi.
Untuk tahun 2026, pemerintah menetapkan kuota FLPP sebanyak 350.000 unit rumah subsidi. Sementara itu, program BSPS ditargetkan menyasar sekitar 400.000 unit rumah tidak layak huni.
Namun, angka tersebut masih jauh dari target besar 3 juta rumah per tahun. Karena itu, percepatan realisasi menjadi tantangan utama Kementerian PKP di bawah kepemimpinan Maruarar.
Kritik Bahlil sekaligus memberi pesan bahwa Program 3 Juta Rumah membutuhkan kerja lintas sektor, bukan hanya Kementerian PKP. Program ini memerlukan dukungan pembiayaan, kesiapan lahan, penyederhanaan perizinan, keterlibatan pengembang, serta partisipasi pengusaha muda.
Sindiran Bahlil tidak hanya dapat dibaca sebagai kelakar antar sesama menteri. Pernyataan itu juga menjadi pengingat bahwa program unggulan Presiden Prabowo harus segera menunjukkan capaian konkret di lapangan.







