Sumbang Seribu Buku untuk Warga Lapas, NasDem Bangun Gotong Royong Literasi

JAKARTA, Komitmen terhadap peningkatan literasi bangsa ini ditunjukkan oleh Fraksi Partai NasDem. Hal ini ditandai dengan sumbangan lebih dari seribu buku yang ditujukan bagi warga Lapas Cipinang, Jakarta Timur. Acara penyerahannya dilakukan secara simbolik oleh anggota Fraksi Willy Aditya kepada Kepala Lapas Wachid Wibowo di Kompleks Lapas Cipinang, Kamis (4 Juni 2026). Acara tersebut juga dihadiri langsung oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto.

Dalam siaran persnya Willy menjelaskan bahwa hibah buku yang persisnya berjumlah 1.170 buah ini adalah penunaian janji setelah di bulan Ramadan kemarin Fraksi NasDem mengadakan acara buka bersama (bukber) di tempat yang sama.

Read More

Menurutnya, apa yang dilakukan oleh NasDem ini merupakan kesadaran akan pentingnya literasi bagi siapa pun, tak terkecuali warga Lapas. Selain menjadi pemantik dalam upaya membangun kesadaran literasi dari dalam bui/tangsi, langkah ini juga dimaksudkan menjadi skema aksi agar waktu luang warga lapas bisa diisi juga dengan hal yang produktif serta kualitatif.

“Mereka yang ada di dalam lapas adalah warga negara juga. Adalah saudara kita sebagai sesama manusia juga. Mereka tetap punya hak untuk mengakses ilmu dan pengetahuan. Dengan kesadaran semacam itulah hibah ini dilakukan,” katanya.

Willy yang juga Ketua Komisi XIII ini lebih lanjut menjelaskan, orang-orang yang berada di balik jeruji tak jarang melahirkan karya intelektualnya. “Orang seperti Tan malaka, Nelson Mandela, Buya Hamka, Pramoedya Ananta Toer, justru melahirkan karya-karya monumentalnya dari balik jeruji penjara.”

Karena itu, apa yang dilakukan oleh NasDem ini bukanlah gimik. Lebih dari itu, kata Willy, ia merupakan refleksi dari temuan-temuan panitia kerja (panja) pemasyarakatan selama ini.

Sebagai ketua komisi yang membidangi urusan pemasyarakatan, dia menandaskan bahwa dinamika di dalam lapas dan dialektika warga binaannya tidak melulu berisi narasi tentang temuan HP, narkoba, atau senjata tajam. Di dalam penjara juga didapati adanya keinginan dan kebutuhan akan akses terhadap sumber pengetahuan.

“Jadi, melalui aksi yang menjadi bagian dari gerakan literasi ini kita bisa berharap terwujudnya lapas yang humanis dan kreatif,” tutur Willy.

Dia berharap, apa yang dilakukan oleh Fraksi NasDem ini melahirkan aksi-aksi lain yang sejalan. “Misalnya, kita berharap ke depan Negara bisa memberikan amnesti tidak hanya berdasar pada aspek berkelakuan baik atau kepatuhan, tetapi juga bagaimana variabel membaca buku, menulis, bahkan adanya kelompok diskusi yang produktif, bisa jadi bahan pemberian amnesti bagi para warga binaan.”

Menutup keterangannya, Willy mengatakan, jenis buku yang dihibahkan kepada Lapas Cipinang adalah buku-buku biografi, novel, politik, motivasi, teknis beberapa produksi seperti skil bercocok tanam, perikanan, ternak, hingga pertukangan. Selain itu, ada juga buku sejarah, pembelajaran agama, sosial, budaya, hingga filsafat.

“Semua itu merupakan patungan dari anggota Fraksi sebagai sebuah kesadaran akan pentingnya literasi bagi bangsa ini. Itulah mengapa aksi ini kami sebut gotong royong literasi,” ungkapnya mengakhiri.

Related posts

Leave a Reply