Semangat Hari Guru Nasional dan Nasib Para Guru Honorer

IMG-20211125-WA0000.jpg

Penulis: Ahmad Sahroni S.Pd., M.Sos

Karawang,- Dengan memakai baju batik berwarna putih bercorak hitam dan bertuliskan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ia berjalan dengan penuh semangat untuk bisa mengajarkan ilmu bagi siswa-siswi di sekolah dasar (SD) tempat Ia mengajar.

Sudah satu dekade Ia mengajar anak-anak di sekolah itu, mulai dari kelas satu hingga enam. Tak banyak yang berubah selama sepuluh tahun mendidik, Ia dan juga guru-guru lainnya masih berstatus guru honorer.

Guru yang dibanyar lima ratus ribu selama satu bulan tersebut, masih semangat mengabdi dengan penuh harapan, tak ada sedikit ucapan keluh kesal yang keluar dari mulut manisnya.

Dengan upah seadanya Ia masih berharap kelak anak-anak itu bisa menjadi manusia yang berbakti bagi keluarga, dirinya, lingkungannya serta bangsanya.

Semangat yang Ia kobarkan lewat kata dan perilaku, tertera makna penting yang tidak bisa diutarakan. Setiap doa yang dipanjatkan di pagi hari menjadikan kalimat tersebut seperti untaian harapan bagi dirinya dan anak-anak di dalam kelas.

Banyak yang tidak menyangka bahwa dirinya bisa mengabdi lama di sekolah itu, dengan status honorernya Ia tak pernah redup dalam mengajarkan ilmu bagi anak didik.

Harapan untuk bisa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tak bisa dicapai hingga saat ini, pembatasan umur bagi calon peserta menjadikan penghalang bagi dirinya dan guru-guru sepuh di sekolah.

Tak hanya sampai disitu, pemerintah menyarankan bagi guru-guru yang tidak lolos untuk mendaftar menjadi PPPK-Guru. Akan tetapi, dengan persyaratan dan test yang berat. Sehingga, sampai saat ini dirinya masih menunggu nasib baik untuk mendapatkan hasil yang sesuai.

Lalu apa yang salah bagi tenaga pendidik saat ini, Ia berjuang dengan penuh semangat, gigih, pamrih, akan tetapi bayaran yang Ia dapat tidak pernah mencukupi kebutuhan hidupnya.

Hari Guru Nasional

Saat ini 25 November 2021 hari dimana bangsa Indonesia merayakan Hari Guru Nasional dengan selogan “Bergerak Dengan Hati, Pulihkan Pendidikan”. Makna yang terkandung dalam moto itu menjadikan guru sebagai penggerak dalam pendidikan, bekerja dengan hati yang riang tanpa pamrih.

Selain itu, dimasa pandemi Covid-19, dunia pendidikan mengalami kemunduran yang signifikan baik karena tujuan, semangat, arti dari pendidikan. Sehingga, guru dituntut menjadi pemulih dikala pendidikan sedang redup.

Teringat apa yang diucapkan oleh Ibrahim Datur Tan Malaka, tujuan dari pendidikan itu untuk Mempertajam Kecerdasan, Memperkukuh Kemauan serta Memperhalus Perasaan.

Ki Hajar Dawantara guru bangsa Indonesia pernah mengatakan bahwa Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, yang artinya seorang guru harus menjadi panutan atau contoh, dan guru juga musti membangun semangat, kemauan atau niat, serta guru juga harus memberikan dorongan, motivasi bagi siswa-siswanya.

Nasib Guru Saat Ini

Dengan apa yang diucapkan oleh pendiri bangsa, mestinya menjadi pertimbangan bagi negara untuk membuat guru semakin sejahtera, bangga akan propesinya, karena pada dasarnya guru adalah penolong bagi mahluk hidup.

Semangat, perjuangan seorang guru harus dibayar dengan penuh oleh negara, selogan pahlawan tanpa tanda jasa sering diucapkan oleh penjabat negeri, tetapi itu semua hanya moto yang tak pernah ada niatan bagi pemimpin untuk merealisasikannya.

Para guru harus menelan rasa pahit yang tak pernah dirasakan oleh para pemimpin di negeri ini, padahal Ia bisa menjadi penguasa, pejabat, pemimpin itu karena didikan dari seorang guru. Oleh sebab itu, tak salah bila para pejabat ini lupa akan pengorbanan seorang guru.

Harus berapa lama lagi guru-guru di negeri ini menunggu, untuk bisa hidup layak, enak seperti para pejabat. Pengorbanan apalagi yang harus dilakukan oleh para guru agar hidup layak secara upah. Negara kaya ini tak mampu untuk membuat kebijakan yang membela guru. Apa yang salah dengan guru. Sehingga para pemimpin negeri tega akan nasib guru.

Di Hari Guru Nasional ini, mari kita sama-sama berjuang untuk para guru yang telah berjuang sepenuh hati, mengorbankan jiwa raganya bagi pendidikan di Indonesia. Semoga para guru bisa mendapatkan apa yang diinginkan, dan hidup layak sesuai dengan propesi mereka.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top