Dirut BEI Mundur, Purbaya Ungkap Alasannya

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa saat melakukan rapat kerja dengan komisi XI DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (10/9/2025). (Tangkapan Layar Youtube/DPR RI)

JAKARTA, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendukung keputusan Iman Rachman yang mengundurkan diri dari jabatan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurut Purbaya, langkah tersebut merupakan bentuk tanggung jawab atas anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat jatuh tajam selama dua hari berturut-turut.

“Saya pikir sih positif sebagai bentuk tanggung jawab dia terhadap masalah yang timbul di bursa kemarin,” ujar Purbaya kepada wartawan di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Read More

Purbaya menilai, kesalahan utama Iman Rachman adalah tidak menindaklanjuti laporan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Laporan tersebut berkaitan dengan ketentuan free float yang berpotensi menurunkan peringkat pasar modal Indonesia dari kategori emerging market.

“Karena dia tidak mem-follow-up masukan atau pertanyaan dari MSCI. Itu kesalahan yang fatal, sehingga kita mengalami koreksi yang dalam kemarin. Kalau tidak cepat dibetulkan, bisa mengganggu yang lain-lain dan dianggap ekonomi tidak stabil,” ujar Purbaya.

Ia menegaskan, pengunduran diri Dirut BEI tidak menimbulkan dampak negatif terhadap fiskal maupun stabilitas ekonomi. Sebaliknya, Purbaya menilai langkah tersebut sebagai sinyal positif bagi pasar.

“Nggak ada dampak. Saya untung kalau dia mundur. Bukan saya yang bayar juga gajinya, nggak ada dampak ke fiskal. Kalau saya pikir ini sinyal yang positif,” katanya.

Menurut Purbaya, keputusan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah merespons gejolak pasar modal dengan cepat dan serius, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan investor.

“Investor di pasar modal maupun sektor riil melihat bahwa kita menangani masalah dengan cepat dan sungguh-sungguh. Yang tadinya ragu-ragu mestinya akan lebih yakin bahwa arah ke depan lebih baik,” ujarnya.

Purbaya optimistis kepercayaan tersebut akan mendorong peningkatan investasi, baik di pasar modal, sektor riil, maupun foreign direct investment (FDI).

Ia bahkan menilai kondisi saat ini justru menjadi momentum bagi investor untuk membeli saham, seiring optimisme perbaikan pasar ke depan.

“Ini positif kalau orang yang ngerti. Kalau yang ngerti mah, buy, serok-serok,” ujar Purbaya.

Related posts

Leave a Reply