JAKARTA, Ketua Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Willy Aditya, menegaskan pentingnya menghidupkan kembali pemikiran para pendiri bangsa dalam forum bedah buku “Muhammad Yamin: 6000 Tahun Sang Merah Putih”. Dalam acara tersebut, Willy menyebut kajian terhadap gagasan kebangsaan sebagai bagian dari upaya menjaga arah republikanisme Indonesia.
Menurut Willy, Indonesia hari ini tidak lahir secara instan, melainkan melalui pergulatan ide dan dialektika panjang para pendiri bangsa. Ia menilai diskursus tentang tokoh seperti Mohammad Yamin perlu terus dihadirkan agar generasi sekarang memahami fondasi historis dan ideologis Republik.
“Tidak pernah ada Indonesia tanpa pergulatan pemikiran para founding fathers. Kita tidak boleh menerima begitu saja simbol dan identitas kebangsaan tanpa memahami akar sejarahnya,” ujar Willy di Auditorium Perpustakaan Panglima Itam, NasDem Tower, Jakarta, Jumat (27/2/26)
Ia menjelaskan, Yamin merupakan sosok multidimensi sastrawan, pemikir, sekaligus perumus konsepsi kebangsaan. Jika Soekarno dikenal sebagai figur utama revolusi di panggung depan, maka Yamin berperan menyiapkan piranti konseptual, pilar, dan milestone penting bagi berdirinya Republik Indonesia.
Dalam buku yang dibedah, gagasan “6000 Tahun Sang Merah Putih” menempatkan bendera Merah Putih bukan sekadar simbol, melainkan hasil konstruksi historis panjang. Willy menilai, Yamin berupaya membangun basis ideologis yang menegaskan bahwa identitas nasional Indonesia memiliki akar peradaban yang kuat.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa proses ideologisasi dalam sejarah bangsa adalah sesuatu yang wajar. Menurutnya, pembentukan mitos politik dan narasi kebangsaan merupakan bagian dari pembentukan identitas kolektif yang memperkuat persatuan.
Willy juga menyoroti kemampuan Yamin memadukan peran ideolog dan teknokrat. Selain membangun narasi besar kebangsaan, Yamin dinilai mampu merumuskan pokok-pokok pikiran kenegaraan secara sistematis dan operasional.
Melalui forum ini, Willy menegaskan bahwa kajian terhadap pemikiran tokoh bangsa bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan menjadi panduan dalam melahirkan kebijakan yang tetap berada dalam garis republikanisme dan konstitusionalisme.
Kegiatan bedah buku yang digelar dalam suasana Ramadan itu diharapkan menjadi ruang refleksi kebangsaan yang produktif. Willy menutup pernyataannya dengan harapan agar diskusi intelektual semacam ini terus menjadi “mata air kebangsaan” dalam memperkuat fondasi ideologi dan arah pembangunan Indonesia ke depan.







