JAKARTA, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru-baru ini mengalami penurunan tajam yang signifikan, memicu penerapan mekanisme penghentian sementara perdagangan saham atau trading halt di Bursa Efek Indonesia (BEI). Keputusan ini bukan diambil secara sembarangan, melainkan sudah diatur dalam peraturan bursa untuk melindungi pasar dari potensi kerugian yang lebih dalam.
Trading halt bertujuan untuk memberikan waktu bagi pasar untuk menenangkan diri, sehingga perdagangan tidak semakin jatuh akibat kepanikan. Ini juga memberikan kesempatan bagi investor untuk mencerna situasi dan mengambil keputusan yang lebih rasional. Mekanisme ini tidak hanya diterapkan di Indonesia, tetapi juga di banyak bursa saham di dunia, seperti Amerika Serikat, China, Jepang, dan Korea Selatan. Fungsinya serupa, yakni untuk menghindari penurunan indeks yang berlebihan dalam waktu singkat.
Sejarah pasar saham menunjukkan bahwa pasar cenderung bereaksi emosional terhadap berita buruk. Oleh karena itu, trading halt membantu meredakan ketegangan dan mencegah aksi jual yang lebih besar, yang dapat memperburuk kondisi pasar.
Kapan Trading Halt Diberlakukan di BEI?
Dalam sistem perdagangan Indonesia, trading halt diberlakukan apabila IHSG turun lebih dari 5% dalam satu sesi perdagangan. Jika kondisi ini terjadi, bursa akan menghentikan perdagangan selama 30 menit. Jika setelah itu IHSG masih mengalami penurunan lebih dari 10%, perdagangan akan dihentikan kembali untuk periode yang sama. Namun, jika IHSG terus mengalami penurunan lebih dari 15%, perdagangan dapat dihentikan hingga akhir sesi atau bahkan diperpanjang ke hari berikutnya dengan persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pada kejadian terbaru, IHSG mengalami koreksi lebih dari 6% dalam satu hari, yang langsung memicu mekanisme trading halt selama 30 menit. Fenomena ini mengingatkan banyak investor, terutama mereka yang baru pertama kali menghadapi situasi serupa, tentang pengalaman sebelumnya seperti pada Maret 2020 saat pandemi COVID-19 mengguncang pasar global.
Faktor Penyebab Penurunan IHSG
Penurunan tajam IHSG kali ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik domestik maupun global. Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, mengungkapkan bahwa volatilitas IHSG lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal, terutama kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap negara mitra dagangnya, yang berdampak negatif pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, ketidakpastian ekonomi global, kebijakan moneter ketat dari bank sentral utama dunia, serta ketegangan geopolitik yang terus meningkat turut memberi tekanan besar pada pasar. Faktor domestik juga memainkan peran penting, terutama kebijakan ekonomi Indonesia yang dianggap kontroversial oleh pasar. Pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut saham sebagai bentuk perjudian, misalnya, telah memicu reaksi negatif dari pasar dan menambah ketidakpastian yang akhirnya mendorong aksi jual besar-besaran.
Dampak Penurunan IHSG terhadap Sektor-Sektor Utama
Penurunan IHSG kali ini memberikan dampak signifikan, terutama pada sektor perbankan, yang selama ini menjadi penopang utama indeks. Saham-saham unggulan seperti BMRI, BBRI, BBCA, dan BBTN mengalami koreksi tajam dalam beberapa bulan terakhir, bahkan ada yang anjlok lebih dari 40%. Hal ini memicu dampak domino ke sektor lainnya, seperti sektor teknologi, bahan baku, properti, dan energi, yang juga mengalami penurunan signifikan.
Peran Trading Halt dalam Pemulihan Pasar
Dalam situasi seperti ini, trading halt berfungsi sebagai instrumen penting untuk mencegah jatuhnya pasar lebih dalam. Penghentian sementara perdagangan memberi waktu bagi investor untuk mengkaji ulang strategi mereka dan memberikan kesempatan bagi otoritas pasar serta pemerintah untuk merespons kondisi ini dengan lebih baik. Walaupun terjadi tekanan besar, investor sebaiknya tidak panik. Pasar modal telah melewati banyak guncangan sebelumnya, seperti krisis finansial 1998, krisis subprime mortgage 2008, dan pengaruh pandemi COVID-19 pada 2020, dan selalu berhasil pulih dalam jangka panjang.
Langkah-Langkah yang Diperlukan untuk Pemulihan Pasar
Untuk jangka pendek, pemerintah dan otoritas keuangan perlu memperkuat komunikasi dengan pasar dan memberikan kejelasan mengenai kebijakan ekonomi yang diterapkan. Kepercayaan investor harus dipulihkan melalui komitmen terhadap stabilitas ekonomi serta transparansi dalam kebijakan fiskal dan moneter. Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan juga perlu memastikan likuiditas pasar tetap terjaga, sehingga tekanan jual yang berlebihan bisa diredam.
Bagi investor, momen seperti ini bisa menjadi kesempatan untuk masuk ke saham-saham berkualitas yang sedang berada pada harga yang lebih rendah. Investor jangka panjang sering memanfaatkan kondisi pasar seperti ini untuk melakukan akumulasi aset dengan mempertimbangkan faktor fundamental perusahaan yang masih solid.