JAKARTA, Presiden Prabowo Subianto menggelar silaturahmi dan diskusi bersama sejumlah tokoh nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (4/3/2026) malam.
Pertemuan yang berlangsung sejak pukul 19.30 WIB hingga sekitar 23.15 WIB itu dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 Joko Widodo, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia, serta mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda.
Usai pertemuan, Bahlil mengungkapkan Prabowo memaparkan perkembangan geopolitik terkini dan kesiapan Indonesia menghadapi dinamika global, terutama terkait sektor energi.
“Prinsipnya kami dari partai politik sangat memahami posisi yang dilakukan bapak presiden dan juga kesiapan langkah-langkah untuk mengantisipasi ini. Semua dilakukan untuk mengamankan negara kita,” ujar Bahlil.
Menurut dia, pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario untuk merespons dampak konflik global agar tidak mengganggu stabilitas nasional.
Hassan Wirajuda menjelaskan, Prabowo juga memperbarui informasi mengenai eskalasi serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Diskusi turut membahas implikasi konflik terhadap tatanan dunia dan dampaknya bagi Indonesia.
“Ketika tatanan dunia sudah tidak lagi efektif dan tidak ada peluang bagi negara korban serangan militer untuk mengadu, karena PBB tidak berperan, dan rule based order hanya on paper, ini menjadi tantangan besar,” ujar Hassan.
Ia menyebut, Prabowo menggambarkan posisi Indonesia yang harus menavigasi situasi global layaknya “berlayar di antara beberapa karang”, bukan hanya dua kutub kekuatan besar.
Selain aspek keamanan dan perdamaian dunia, pertemuan juga membahas potensi dampak ekonomi, khususnya terhadap pasokan minyak dan gas global.
“Nah, kita berhitung semua apa efeknya terhadap kita, terutama dari sisi supply oil, minyak, dan gas,” kata Hassan.
Menurut Hassan, salah satu perhatian utama adalah ketidakpastian durasi perang. Awalnya, Presiden AS Donald Trump menyebut konflik akan berlangsung beberapa hari. Namun kini muncul potensi perang berlanjut hingga beberapa pekan.
Apalagi jika terjadi pengerahan pasukan darat, konflik berisiko meluas dan memicu reaksi dari negara-negara di Timur Tengah.
“Ini dilema yang dihadapi banyak negara, bukan hanya kita. Karena itu presiden menganggap penting untuk mengomunikasikan situasi ini kepada para tokoh,” ujarnya.
Hassan menambahkan, pertemuan berlangsung dalam format briefing dan dialog. Para peserta diberi ruang menyampaikan pandangan dan masukan, sementara presiden disebut terbuka terhadap berbagai usulan pemikiran.







