JAKARTA, Kondisi pasar keuangan Indonesia menjadi sorotan lembaga internasional setelah Moody’s Investors Service menurunkan outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Keputusan ini menyusul langkah sejumlah institusi global yang sebelumnya menyesuaikan pandangan terhadap pasar keuangan Tanah Air.
Moody’s menyebut penurunan outlook dipicu oleh menurunnya prediktabilitas perumusan kebijakan, yang dinilai berisiko melemahkan efektivitas kebijakan serta mengindikasikan pelemahan tata kelola.
“Penurunan outlook mencerminkan risiko meningkatnya ketidakpastian kebijakan yang dapat berdampak pada kekuatan fiskal dan kredibilitas kebijakan,” tulis Moody’s dalam pernyataannya.
Meski demikian, Moody’s mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level Baa2, baik untuk mata uang lokal maupun asing. Peringkat tersebut masih berada dalam kategori investment grade.
Namun, perubahan outlook dinilai tetap berdampak terhadap kepercayaan investor dan berpotensi memengaruhi arus modal asing ke pasar keuangan domestik.
Sebelumnya, MSCI membekukan pembaruan indeks saham Indonesia, yang memunculkan kekhawatiran di pasar terkait risiko penurunan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi frontier market. Setelah itu, Goldman Sachs dan UBS juga menurunkan rekomendasi pasar saham Indonesia menjadi underweight, yang memicu tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan lalu.
Sementara itu, S&P Global Ratings menyatakan outlook Indonesia masih stabil, meski tetap mencermati perkembangan risiko fiskal ke depan.
“Pelebaran tekanan fiskal berpotensi meningkatkan tekanan penurunan terhadap peringkat obligasi Indonesia, kecuali diimbangi perbaikan signifikan pada indikator kredit lainnya,” ujar Rain Yin, analis S&P Global Ratings, dalam keterangannya, Jumat (6/2/2026).
Hingga kini, Fitch Ratings belum mengeluarkan pernyataan terbaru terkait kondisi pasar Indonesia. Namun sebelumnya, Fitch sempat menyoroti potensi ketidakpastian fiskal jangka menengah, termasuk yang berkaitan dengan program belanja pemerintah berskala besar.
Dampak perubahan pandangan lembaga pemeringkat tersebut mulai tercermin di pasar. Nilai tukar rupiah tercatat melemah 0,22 persen pada perdagangan terbaru dan turun 0,48 persen sepanjang pekan. Secara year to date (ytd), rupiah terdepresiasi 1,04 persen, menjadi salah satu mata uang terlemah di Asia.
Di pasar saham, terjadi arus modal asing keluar sebesar 712,7 juta dollar AS secara ytd. Sementara itu, pasar surat utang negara masih mencatatkan aliran dana asing masuk sekitar 470 juta dollar AS, meski imbal hasil (yield) surat berharga negara cenderung meningkat.
Para pelaku pasar menilai perubahan outlook menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk menjaga disiplin fiskal, konsistensi kebijakan, dan kredibilitas pengelolaan APBN, guna mempertahankan status investment grade Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.






