JAKARTA, Konektivitas global yang dibangun Singapore Airlines Group dinilai berperan signifikan dalam mendorong arus pariwisata inbound, perdagangan, serta distribusi logistik ke Indonesia.
Melalui hub di Bandara Changi, grup maskapai ini menghubungkan Indonesia dengan lebih dari 130 destinasi di 37 negara. Jaringan tersebut menjadikan Singapura sebagai salah satu simpul utama mobilitas udara di kawasan Asia Tenggara.
Berdasarkan laporan operasional terbaru, Singapore Airlines Group mengangkut 41,6 juta penumpang sepanjang 2025, meningkat sekitar 6,6 persen secara tahunan. Pada Desember 2025, jumlah penumpang mencapai 3,8 juta dengan load factor 87,9 persen, mencerminkan tingginya permintaan perjalanan udara.
Konektivitas ini berdampak langsung pada sektor pariwisata. Rute-rute baru yang dibuka, termasuk ke Labuan Bajo, Semarang, dan Padang, memperluas akses wisatawan mancanegara ke destinasi di luar Bali. Dengan skema hub-and-spoke melalui Singapura, wisatawan dari Eropa, Amerika, hingga Asia Timur dapat menjangkau berbagai kota di Indonesia dengan waktu tempuh yang relatif efisien.
Data Badan Pusat Statistik mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai sekitar 1,41 juta kunjungan pada Desember 2025, dengan tingkat hunian hotel berbintang sebesar 56,12 persen. Konektivitas udara menjadi salah satu faktor kunci yang menopang capaian tersebut, sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan devisa sektor pariwisata.
Di sektor perdagangan, konektivitas penerbangan juga memperkuat mobilitas pelaku usaha dan investor. Akses yang terintegrasi melalui Singapura memudahkan perjalanan bisnis ke kota-kota utama seperti Jakarta dan Surabaya, serta mempercepat interaksi ekonomi lintas negara.
Sementara itu, pada sektor logistik, Singapore Airlines Group mencatat pertumbuhan angkutan kargo sekitar 7,4 persen secara tahunan dengan cargo load factor 55,2 persen. Jaringan kargo yang menjangkau lebih dari 130 destinasi global memungkinkan distribusi barang bernilai tinggi, termasuk produk manufaktur, elektronik, dan komoditas segar dari Indonesia, berlangsung lebih cepat dan efisien.
Kombinasi mobilitas penumpang dan kargo tersebut menciptakan efek berganda bagi perekonomian, mulai dari peningkatan kunjungan wisatawan, kelancaran distribusi perdagangan, hingga penguatan daya tarik investasi.
Meski demikian, ketergantungan pada hub eksternal seperti Singapura menunjukkan bahwa konektivitas udara Indonesia masih perlu diperkuat. Pengembangan hub penerbangan internasional yang kompetitif dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam jaringan aviasi global.
Dapat dikatakan, keberadaan Singapore Airlines Group memberikan kontribusi nyata terhadap integrasi ekonomi Indonesia dengan pasar global, terutama melalui penguatan sektor pariwisata, perdagangan, dan logistik.







