Ketahanan Kesehatan sebagai Fondasi Bangsa: DR. Cashtry Meher Luncurkan Buku ‘Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa

JAKARTA, Kesehatan tidak lagi cukup dipahami sebagai layanan yang bekerja ketika sakit datang. Namun harus ditempatkan sebagai fondasi keberlanjutan kehidupan dan ketahanan bangsa. Cara pandang inilah yang menjadi inti buku Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa karya DR. Cashtry Meher. Seorang penulis, pemerhati kesehatan, dan pemikir ketahanan kesehatan nasional.

Dalam peluncuran buku tersebut DR. Cashtry menegaskan menjaga kehidupan adalah bentuk tertinggi dari keberadaban sebuah bangsa. Menurutnya, ketahanan kesehatan tidak semata diukur dari kemampuan merespons krisis, melainkan dari kapasitas sistemik bangsa untuk mencegah, melindungi, dan memulihkan kehidupan secara konsisten. Kesehatan, kata dia, perlu ditempatkan sebagai fondasi pembangunan, bukan sekadar konsekuensi di akhir proses.

Read More

“Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa” menegaskan bahwa ketahanan kesehatan nasional hanya dapat terwujud melalui sinergi dan kolaborasi lintas sektor. Kesehatan tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan erat dengan pendidikan, lingkungan, ekonomi, dan tata kelola publik,” ujar DR. Cashtry dalam peluncuran bukunya di The Ritz Carlton, Pasific Place, Jakarta, Rabu (14/1/25)

Melalui buku ini, DR. Cashtry mengajak publik melihat kesehatan sebagai sistem perlindungan kehidupan, sebuah sistem yang bekerja sebelum risiko muncul dan tetap hadir ketika tantangan datang. Buku ini lahir dari refleksi panjang atas pengalaman lapangan, dialog lintas disiplin, serta kebutuhan membangun sistem kesehatan yang tidak hanya tanggap, tetapi juga tangguh dan berkelanjutan.

“Karena itu, buku ini mendorong kolaborasi penuh antara pemerintah, tenaga profesional, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat sebagai satu ekosistem kehidupan yang saling menguatkan,” tutur DR. Cashtry.

Dalam kerangka tersebut, kesehatan dipahami sebagai bahasa bersama kebangsaan, bahasa yang menyatukan berbagai peran dan latar belakang, karena semuanya berangkat dari satu kepentingan yang sama: kehidupan. Pendekatan ini diharapkan mampu menggeser cara pandang kolektif dari reaktif menjadi preventif, dari sektoral menjadi sistemik, serta dari jangka pendek menjadi lintas generasi.

DR. Cashtry menekankan bahwa buku ini tidak ditulis untuk mengkritik, melainkan untuk mengajak semua pihak berjalan bersama. Keberhasilan buku ini, menurutnya, tidak diukur dari angka penjualan atau sorotan media, tetapi ketika gagasannya hidup menjadi rujukan pemikiran, memperkaya diskursus publik, dan memandu kolaborasi nyata dalam membangun ketahanan kesehatan nasional.

Sementara itu, Burhanuddin Abdullah, Board of Advisors Prasasti Center for Policy Studies menilai buku ‘Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa’ Karya DR. Cashtry sarat makna, betapa pentingnya pembangunan kesehatan di Indonesia. Bukan hanya dari sisi kebijakan dan sistem, tetapi juga dari sisi kemanusiaan, dampak nyata pelayanan kesehatan terhadap kehidupan masyarakat.

“DR Cashtry menata ulang, mengungkapkan pikiran gagasan dan sejumlah inisiatif yang tenang atas realitas. Ini buku berbasis pengalaman lapangan, refleksi intelektual. Ini bukti otentik betapa pentingnya asta cita poin keempat. Buku ini layak dibaca oleh para pembuat kebijakan, akademisi, birokrat dan masyarakat pada umumnya,” ungkap Burhanuddin Abdullah.

Peluncuran buku “Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa” diharapkan menjadi kontribusi pemikiran penting bagi upaya mewujudkan ketahanan kesehatan nasional sebagai prasyarat menuju Indonesia Emas 2045 yang manusiawi, tangguh, dan berkelanjutan.

Hadir pemberi Testimoni buku, antara lain: Prof. Ilya Avianti, Fuad Bawazier, Prof. Laode, Kolonel Kes Muhammad Ihsan, Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana dan tokoh-tokoh nasional lainnya.

Related posts

Leave a Reply