IKK Februari 2026 Turun ke 125,2, Ekspektasi Konsumen Melemah Meski Kondisi Ekonomi Saat Ini Membaik

JAKARTA, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2026 tercatat menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Survei Konsumen yang dirilis Bank Indonesia (BI) menunjukkan IKK berada di level 125,2, lebih rendah dari Januari 2026 yang mencapai 127. Meski mengalami penurunan, level tersebut masih berada di zona optimistis karena tetap di atas indeks 100.

Penurunan IKK terutama dipicu oleh melemahnya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Komponen ini turun cukup signifikan dari 138,8 pada Januari menjadi 134,4 pada Februari 2026.

Read More

Berdasarkan laporan Survei Konsumen BI yang dirilis Senin (9/3/2026), penurunan IEK terjadi pada seluruh komponen pembentuknya. Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) tercatat turun dari 146 menjadi 140,7. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (IEKLK) menurun dari 135,1 menjadi 131,7, dan Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU) turun dari 135,3 menjadi 130,9.

Di sisi lain, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) justru mengalami peningkatan. IKE pada Februari 2026 tercatat sebesar 115,9, naik tipis dari 115,1 pada Januari.

Kenaikan IKE didorong oleh membaiknya seluruh komponen pembentuknya. Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) meningkat dari 123,7 menjadi 125. Selain itu, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) naik dari 109,9 menjadi 110,7, dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) meningkat dari 111,8 menjadi 112.

Bank Indonesia mencatat keyakinan konsumen terhadap penghasilan saat ini secara umum mengalami peningkatan. Namun, jika dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, peningkatan indeks hanya terjadi pada kelompok rumah tangga dengan pengeluaran Rp2,1 juta hingga Rp5 juta per bulan.

Sebaliknya, kelompok rumah tangga dengan pengeluaran Rp1 juta hingga Rp2 juta serta kelompok dengan pengeluaran di atas Rp5 juta tercatat mengalami penurunan indeks keyakinan.

Sebagai informasi, Survei Konsumen merupakan survei bulanan yang dilakukan Bank Indonesia sejak Oktober 1999. Sejak Januari 2007, survei ini melibatkan sekitar 4.600 rumah tangga sebagai responden melalui metode stratified random sampling di 18 kota di Indonesia.

Kota-kota tersebut antara lain Jakarta, Bandung, Bogor-Depok-Bekasi, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Bandar Lampung, Palembang, Banjarmasin, Padang, Pontianak, Samarinda, Manado, Denpasar, Mataram, Pangkal Pinang, Ambon, dan Banten.

Indeks pada masing-masing kota dihitung menggunakan metode balance score atau net balance ditambah 100. Dalam metode ini, indeks di atas 100 menunjukkan konsumen berada pada kondisi optimistis, sedangkan indeks di bawah 100 mencerminkan pesimisme terhadap kondisi ekonomi.

Related posts

Leave a Reply