JAKARTA, Harga minyak dunia kembali melonjak tajam pada perdagangan Senin (9/3/2026). Harga minyak jenis Brent tercatat mencapai US$113,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$113,25 per barel.
Kenaikan ini memperpanjang reli harga minyak global yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026. Lonjakan harga energi tersebut berpotensi memberikan tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, harga minyak yang sudah menembus US$100 per barel membuat tekanan terhadap fiskal Indonesia meningkat signifikan. Level harga tersebut dinilai jauh di atas kisaran yang masih relatif aman bagi APBN.
“Dalam simulasi kami, bila harga minyak berada di US$100 per barel dan nilai tukar rupiah berada di Rp17.000 per dolar AS, tambahan tekanan terhadap anggaran mencapai sekitar Rp208 triliun,” ujar Josua, Senin (9/3/2026).
Menurut dia, tambahan tekanan tersebut berpotensi membuat defisit APBN 2026 melebar dari target yang telah ditetapkan pemerintah.
Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyatakan APBN masih mampu mengantisipasi harga minyak di kisaran US$80 hingga US$90 per barel dengan defisit tetap dijaga di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dalam APBN 2026, pemerintah menargetkan defisit sebesar Rp689,1 triliun atau setara 2,68 persen terhadap PDB.
Namun, berdasarkan simulasi Permata Bank, apabila harga minyak bertahan di level US$100 per barel dan rupiah berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS, defisit APBN berpotensi meningkat menjadi sekitar Rp897,1 triliun.
Bahkan pada skenario harga minyak lebih rendah, yakni US$80 per barel dengan kurs rupiah di level Rp17.000 per dolar AS, defisit diperkirakan tetap meningkat menjadi sekitar Rp761,1 triliun atau bertambah sekitar Rp72 triliun dari target awal.
Josua menilai ketahanan fiskal Indonesia masih dapat dijaga dalam jangka pendek apabila harga minyak berada di level US$100 per barel. Namun, ruang fiskal pemerintah akan menjadi jauh lebih sempit dibandingkan skenario harga minyak di kisaran US$80 hingga US$90 per barel.
Tekanan utama terhadap APBN berasal dari potensi lonjakan subsidi dan kompensasi energi apabila harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri tidak disesuaikan dengan harga pasar.
Dalam perhitungan ekonom, pada skenario harga minyak US$100 per barel dan nilai tukar rupiah Rp17.000 per dolar AS, harga keekonomian BBM diperkirakan meningkat signifikan.
Harga keekonomian Pertalite diperkirakan mencapai sekitar Rp17.600 per liter, sementara Pertamax berpotensi naik ke sekitar Rp17.800 per liter.
Selisih yang besar antara harga keekonomian dan harga jual saat ini berpotensi membuat beban subsidi dan kompensasi energi membengkak apabila pemerintah menahan harga BBM. Sebaliknya, penyesuaian harga berisiko menekan inflasi dan daya beli masyarakat.
Secara historis, penyesuaian harga BBM bersubsidi biasanya terjadi ketika selisih harga minyak terhadap asumsi APBN mencapai sekitar US$20 hingga US$40 per barel. Oleh karena itu, peluang penyesuaian harga BBM pada 2026 dinilai meningkat apabila harga Brent bertahan di atas US$90 per barel.







