Gubernur Aceh Akui Kewalahan Tangani Dampak Bencana Sumatera, 50.000 Hektar Sawah Terendam Lumpur

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf memberi pernyataan pada media menanggapi hasil Rekomendasi Pansus DPRA terhadap Mineral, Batu Bara, Minyak dan Gas, di Ruang Serbaguna DPR Aceh, Kamis (25/9/2025). (Humas Pemprov Aceh)

JAKARTA, Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem mengaku kewalahan menangani dampak bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Aceh. Salah satu persoalan paling mendesak adalah rusaknya lahan pertanian, khususnya sawah yang kini tertutup lumpur.

Hal itu disampaikan Mualem dalam Rapat Koordinasi Satuan Tugas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera yang digelar di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Kamis (15/1/2026), dan dihadiri sejumlah menteri Kabinet Merah Putih.

Read More

“Yang pertama, di Aceh, Pak. Provinsi Aceh, kami kewalahan sekarang masalah sawah,” ujar Mualem.

Ia mengungkapkan, sekitar 50.000 hektar lahan sawah di Aceh saat ini terendam lumpur akibat bencana. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak serius terhadap mata pencaharian masyarakat dan berpotensi meningkatkan angka kemiskinan.

“Kalau ini tidak kita benahi, sudah pasti angka pencaharian, angka kemiskinan akan menambah,” kata dia.

Selain sektor pertanian, Mualem juga melaporkan kerusakan infrastruktur, terutama jembatan penghubung antarwilayah. Jembatan pada ruas jalan nasional di Aceh disebut telah rampung sekitar 60 persen, namun jembatan di tingkat kecamatan dan desa masih banyak yang belum tersentuh perbaikan.

“Sedangkan jembatan-jembatan melalui kecamatan, antar kecamatan, antar desa ini masih belum tersentuh,” ungkapnya.

Akibatnya, sejumlah wilayah seperti Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara masih mengandalkan rakit sebagai sarana penyeberangan sungai. Bahkan, warga dan anak-anak sekolah terpaksa menggunakan rakit untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Mualem pun meminta pemerintah pusat segera mengambil kebijakan agar akses penyeberangan dapat dipulihkan, mengingat lebar sungai di sejumlah lokasi mencapai 100 hingga 150 meter.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 1.189 jiwa.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan data tersebut merupakan hasil pemutakhiran hingga Senin (12/1/2026).

“Total korban meninggal dunia mencapai 1.189 jiwa, dengan rincian 550 jiwa di Aceh, 375 jiwa di Sumatera Utara, dan 231 jiwa di Sumatera Barat,” kata Abdul Muhari dalam keterangan pers, Rabu (14/1/2026).

Selain itu, masih terdapat 33 jenazah yang dalam proses identifikasi, 141 orang dilaporkan hilang, serta 195.542 jiwa mengungsi. Kabupaten Aceh Utara tercatat sebagai wilayah dengan jumlah pengungsi tertinggi, yakni 67.876 jiwa.

Related posts

Leave a Reply