Bonnie Triyana: Potensi Besar Pariwisata Budaya Bisa Gantikan Sektor Ekstraktif yang Merusak

JAKARTA, Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana menilai sektor pariwisata dan kebudayaan memiliki potensi ekonomi besar dan berkelanjutan, sehingga dapat menjadi alternatif sumber pemasukan negara menggantikan sektor pertambangan yang bersifat ekstraktif dan merusak lingkungan.

Hal itu disampaikan Bonnie dalam Rapat Dengar Pendapat Panitia Kerja (Panja) Pelestarian Cagar Budaya Komisi X DPR RI bersama perwakilan Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta Kementerian Lingkungan Hidup, di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (28/1).

Read More

Bonnie memaparkan, kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai sekitar Rp 1.000 triliun dan mampu menyerap sekitar 25 juta tenaga kerja. Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan bahwa pariwisata merupakan sektor strategis yang layak diseriusi.

“Kalau kita bandingkan total dari sektor pariwisata di Bali itu output ekonominya dan juga tenaga kerja yang bergerak di bidang pariwisata, itu bisa lebih besar ketimbang sektor pertambangan yang ada di Papua,” ujar Bonnie.

Ia menegaskan, dengan pengelolaan yang serius, Indonesia tidak perlu terus membuka tambang secara masif. Pariwisata, menurutnya, lebih berkelanjutan karena tidak menimbulkan kerusakan lingkungan.

“Dengan kata lain, kalau kita mau serius menyeriusi pariwisata ini, kita tidak perlu lagi membuka tambang secara masif. Karena pariwisata itu lebih sustainable dan tidak melakukan destruksi atau kerusakan alam,” kata anggota Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Dalam pemaparannya, Bonnie juga menyoroti tantangan pengembangan destinasi berbasis cagar budaya, salah satunya Situs Muara Jambi di Provinsi Jambi. Kawasan cagar budaya seluas sekitar 3.000 hektare itu, menurut dia, masih bersinggungan dengan aktivitas pertambangan batu bara.

“Bahkan ada beberapa temuan arkeologis di sana yang tertimbun oleh stokpile batu bara,” ujarnya.

Selain persoalan tumpang tindih kebijakan, Bonnie menekankan pentingnya penguatan narasi dan pengelolaan destinasi yang konsisten. Ia mencontohkan tokoh fiksi Hans Brinker di Belanda yang mampu diangkat menjadi daya tarik wisata utama melalui pengelolaan cerita yang tekun dan berkelanjutan.

“Di Sumatera Barat kita punya Siti Nurbaya, Malin Kundang. Tapi penyakit kita itu inisiatif banyak, tidak tekun dikelola,” katanya.

Bonnie juga menyoroti aspek hospitality atau keramahan masyarakat sebagai faktor krusial dalam pengembangan pariwisata. Ia menyinggung kasus penembakan harga kepada wisatawan di Carita, Banten, yang sempat viral dan dinilainya mencoreng citra pariwisata nasional.

“Hospitality-nya tidak ada. Padahal itu syarat utama dari pariwisata,” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Bonnie kembali mengangkat potensi besar Muara Jambi sebagai pusat peradaban Buddha yang memiliki keterkaitan dengan tokoh penting seperti Atisha Dipamkara. Ia menyebut, dalam sebuah wawancara, Dalai Lama pernah menyatakan bahwa guru spiritualnya berasal dari Suwarnadwipa atau Sumatera, tepatnya dari kawasan Muara Jambi.

“Bisa dibayangkan kalau narasi itu kita kelola secara profesional. Itu bisa menarik wisatawan mancanegara, termasuk dari China dan India,” pungkas Bonnie.

Related posts

Leave a Reply