BI Intervensi Pasar, Rupiah Sentuh Rekor Terendah Rp17.095 per Dolar AS

JAKARTA, Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah setelah mata uang tersebut menyentuh rekor terendah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, intervensi dilakukan di pasar spot dan forward non-deliverable sebagai respons atas tekanan yang meningkat.

Read More

“Menstabilkan rupiah tentu menjadi prioritas utama kami saat ini. Kami akan menggunakan setiap instrumen dan kebijakan yang kami miliki,” ujar Destry dikutip dari Reuters, Selasa (7/4/2026).

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah dipicu oleh dinamika global, termasuk reaksi pasar terhadap konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini juga mendorong tekanan terhadap sejumlah mata uang di kawasan Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 10.21 WIB, rupiah berada di level Rp17.084 per dolar AS atau melemah 0,29 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.035 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat menyentuh level terlemah di Rp17.095 per dolar AS.

Sementara itu, data LSEG mencatat rupiah melemah hingga 0,35 persen ke level Rp17.090 per dolar AS pada Selasa pagi. Secara tahun berjalan 2026, rupiah telah terdepresiasi lebih dari 2 persen terhadap dolar AS.

Destry menambahkan, BI juga siap membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder jika diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Selain itu, otoritas moneter akan meningkatkan daya tarik instrumen berdenominasi rupiah, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), guna mendorong arus masuk modal.

Ia mengakui, pelemahan rupiah berpotensi menekan aktivitas ekonomi domestik. Namun, kenaikan harga komoditas global dinilai dapat membantu meredam dampak tersebut.

Di kawasan Asia, pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang lainnya. Peso Filipina tercatat menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun 0,29 persen.

Related posts

Leave a Reply