Anomali Impor Barang Konsumsi Yang Loyo Jelang Lebaran

Ilustrasi

JAKARTA, Neraca perdagangan Indonesia berhasil mempertahankan posisi surplus pada Februari 2025, meskipun mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Surplus pada Februari 2025 tercatat sebesar US$ 3,12 miliar, lebih rendah dibandingkan surplus pada Januari 2025. Meski demikian, surplus ini didorong oleh lonjakan ekspor minyak kelapa sawit (CPO) yang mengalami peningkatan signifikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa ekspor CPO dan turunannya mengalami kenaikan yang cukup pesat. Nilai ekspor CPO bulan Februari 2025 tercatat naik sebesar 58,35% secara bulanan (month to month/mtm) dan melonjak 89,54% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy). Hal ini menjadi faktor utama yang menjaga surplus neraca perdagangan Indonesia di tengah tantangan lainnya.

Read More

“Ekspor CPO dan turunannya memberikan kontribusi besar dalam surplus neraca perdagangan kali ini,” ungkap Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam rilis statistik BPS, Senin (17/3/2025).

Namun, meskipun surplus tercatat, ada anomali yang terjadi dalam neraca perdagangan Indonesia, yaitu penurunan impor barang konsumsi yang cukup signifikan. Menjelang bulan Ramadan dan Lebaran, impor barang konsumsi pada Februari 2025 tercatat turun 10,61% secara bulanan (mtm), dengan penurunan volume mencapai 27,63%. Secara tahunan, penurunan nilai impor barang konsumsi ini bahkan lebih dalam, yaitu mencapai 21,05%.

Penurunan impor barang konsumsi ini dipengaruhi oleh turunnya beberapa komoditas utama seperti buah-buahan (HS 08), daging hewan (HS 02), dan serelia, termasuk beras (HS 10). Secara bulanan, impor buah-buahan mengalami penurunan nilai sebesar US$ 60,9 juta, daging hewan turun US$ 44,8 juta, dan serelia, terutama beras, turun US$ 37,8 juta.

Penurunan impor barang konsumsi ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat, yang bisa jadi dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi dalam negeri, seperti harga barang, daya beli masyarakat, serta kondisi pasar menjelang periode besar seperti Ramadan dan Lebaran.

“Meski penurunan impor barang konsumsi ini perlu dicermati, secara keseluruhan, kinerja neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan angka positif berkat ekspor komoditas unggulan, seperti CPO,” ujar Amalia.

Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2025 mencerminkan kinerja ekspor yang positif, terutama didorong oleh minyak kelapa sawit. Namun, penurunan impor barang konsumsi menunjukkan adanya perubahan dalam pola konsumsi domestik.

Related posts

Leave a Reply